Senin, 30 Desember 2019

Hi, future.

Hari ini, hari terakhir di tahun 2019. Iya 31 desember 2019. Aku ingat, tahun lalu aku juga menulis seperti ini. Tapi kali ini beda, bukan tentang yudi lagi, bukan tentang ilham lagi dan bukan tentang bolang lagi.
Sebut saja dia dana, jaka pradana. Yang sekarang selalu menemani hari hariku. Orang yang sudah ku kenal lama, sejak aku SMP. Yang paling lama berjuang untuk aku.
Sekarang, dia alasan ku bahagia. Dia yang selalu membuat aku tersenyum, dengan kebiasaan kebiasaan yang terlihat biasa aja, tapi aku suka.
Dia yang selalu berusaha ada, walau kami jauh. Yang selalu mendengar ocehan ocehan tidak pentingku. Yang sabar ketika aku cerita tentang afgan. Yang selalu sabar walaupun aku tidak pernah bilang dia pacarku.
Emang kita pacaran?, kataku. Ya dia cuma tersenyum, iya enggak. Friendzone.
Tidak, kami tidak pacaran. Cuma temen, iya temen hidup.
Semoga di 31 desember tahun depan aku tetap menulis ini. Tapi tetap dengan cerita yang sama, menceritakan betapa bahagia nya aku sekarang punya kamu. Entah, entah apa alasanku memilihmu. Yang ku tau, untuk sekarang aku sudah terlalu nyaman bersamamu. Semoga saja selamanya seperti ini. Menua bersamamu, bahagia bersamamu, semoga saja. I love you, dana ❤

Jumat, 07 Juni 2019

A new chapter

Kemaren dia mengenalkan wanita pilihannya ke ibunya. Padahal siang nya kami baru saja bertemu. Aku bertemu ibunya juga, sekaligus ayah nya. Iya, aku yang duluan ketemu dan dikenalkan. Iya tapi cuma dikenalkan sebagai teman. Entah wanita itu, mungkin dikenalkan sebagai wanita yang akan mendampinginya kelak.
Semacam ingin balas dendam, atau aku sudah muak dengan segala macam sakit hati yang kau ciptakan. Aku benar benar membuka hatiku untuk dia, yang selalu ada. Yang tetap berjuang meski aku kadang sedikit jahat kepadanya :(
Semacam ingin menunjukkan, "hey kamu, aku sudah bisa bahagia tanpa kamu". Padahal kamu mungkin bahkan tidak perduli dengan bahagiaku lagi.
Dear yang selalu menyakiti, mungkin aku sudah lelah dengan rasa sakit yang berkepanjangan. Mungkin dokterku juga sudah lelah memberi resep obat untuk rasa sakit yang selalu kau ciptakan. Aku ijin pergi, tapi kalau suatu hari nanti aku rindu, tak apa ya kalau aku tetap bercerita tentangmu lagi.
Dear kamu yang selalu berjuang, terima kasih masih ada di sini. Terima kasih untuk sabar yang sudah terlalu banyak. Terima kasih karna sudah berusaha menyakinkanku. Untuk saat ini hatiku sudah terbuka, tapi belum seutuhnya. Akan kuusahakan secepatnya aku mencintaimu. Sampai saat itu, tetap disini bersamaku ya. Terima kasih untuk bahagia yang sudah mulai tercipta sekarang.

Sabtu, 11 Mei 2019

Kamu adalah alasan rindu diciptakan

Semalam aku baru saja mendengarkan sebuah lagu. Ada lirik yang aku suka. "Kamu adalah alasan rindu diciptakan". Aku hanya tersenyum mendengar nya. Sedikit tidak masuk akal, tapi aku suka liriknya.
Kalau dihitung, sudah 5 bulan 3 hari kita tidak bertemu. Hanya melihatmu dari status mu dan memandangi fotomu saja. Mungkin hanya aku saja yang rindu. Kamu tidak. Malah mungkin kamu sudah lupa. 
Kamu tau, aku melakukan hal bodoh lagi karna kamu. Setiap aku rindu kamu, aku mengirim pesan ke nomor kamu. Iya, aku tau kamu tidak akan pernah membalas nya. Tak apa, sekedar megirimnya saja aku sudah senang. Seperti menyampaikan salam rinduku. Sampai kapan? Entah akupun tak tau. 
Melihatmu bahagia bersama orang lain, untuk sekarang aku sudah mulai ikhlas. Iya, aku tidak rela. Tapi memaksamu bersamaku malah akan memperburuk keadaan bukan? Aku tetap mendoakan yang terbaik untukmu, untuk kita. Jika aku dan kamu memang ditakdirkan, kita akan bersama. Pulanglah, pintu rumahku sudah terbuka sejak lama untukmu. Hanya saja kamu enggan berkunjung untuk menetap. Kamu hanya berkunjung untuk sekedar minum teh lalu pergi. Aku akan tetap menunggu, sampai kamu benar benar tinggal dirumahku. Atau mungkin, ada orang lain yang akan tinggal, bukan kamu. 
Untuk sekarang, aku masih menyebut namamu dalam doaku. Semoga kamu bahagia, akupun juga. Selamat malam kamu, aku sayang kamu, jogal. 

Minggu, 28 April 2019

Berdamai dengan hati

Sedang berada di posisi mencoba membuka hati untuk orang yang sudah lama berjuang tapi ku acuhkan. Entahlah, aku belum sayang sekarang. Entah nanti. Semoga saja. Aku berharap bisa sayang, tapi kalau tidak bisa. Tolong jangan marah. Karna aku juga tidak bisa memaksa kehendak hatiku. Hatiku yang masih memiliki rasa untuk orang yang sekarang memilih orang lain, yang akan berusaha membagi sedikit ruangan kosong untuk seseorang yang baru.
Ingat, aku tidak janji. Tapi aku akan coba.

Minggu, 17 Maret 2019

Sore itu, di cafe favorite kita.

Pernah suatu sore kami bertemu. Canggung sekali. Tapi aku berusaha tersenyum. Menyapa, "hai".
Dia membalas sambil tersenyum dan seperti biasa, tangan nya mencubit pipi ku. Aku sedikit kesal, kenapa sih masih melakukan sesuatu yang selalu kau lakukan dulu. Mencoba biasa saja, dan tetap tersenyum.
Kopi hitam pake es terus hot chocolate ya mas, katanya. Padahal aku belum memesan apapun dan belum berkata apa apa. Dia tau, dia mengulang kebiasaan itu lagi. Duduk santai berdua. Entah, entah kenapa sore itu aku memang ingin minum kopi sendiri, begitu juga dia.
Membuka percakapan dengan pertanyaan, "kamu apa kabar" bercerita tentang kegiatan selama ini dan akhirnya ketitik pertanyaan yang selama ini aku penasaran akan jawabannya "kamu kenapa menghilang"
Dia cuma tersenyum, sambil berkata "tenang, kemanapun aku pergi, dengan siapa aku sekarang, cinta tetap tau jalan pulang kerumah. Rumah ku kamu"
Ingin rasanya aku membunuhnya saat itu juga. Tapi untuk alasan sayang, aku tidak kuat. Kuhabiskan minuman ku dan buru buru ingin meninggalkan tempat itu. Dia cuma berpesan, "Tunggu aku, aku pasti pulang. Jalan nya agak panjang, tapi yakinlaa rumah ku pasti kamu.
Kuambil tas ku, dan bergegas pergi tanpa menoleh kebelakang. Meyakinkan dalam hati kalau yang barusan terjadi dan yang ku dengar hanyalah halusinasiku saja. Aku bisa memaafkanmu, tapi untuk kembali bersamamu aku masih takut. Takut kalau nantinya kamu akan menghilang lagi.

Sabtu, 16 Maret 2019

Patah

Malam ini, pukul 00:02. Iya nggak sengaja, aku liat foto kamu sama dia. Kamu bahagia, dia juga. Cuma aku yang sedih.
 Aku fikir, aku sudah bisa ikhlas melepasmu, tapi rasa sakit itu masih saja hadir. Menyiksa, tapi aku tak bisa ungkapkan, percuma. Kalau aku bilang kamu juga tidak perduli. Hey kamu, aku masih sayang kamu. Sampai detik ini. Entah sampai kapan. Aku juga bingung.

Sabtu, 23 Februari 2019

Kamu, jahat.

Apa ya,
Sebegitu pengen nya ngilang dari hidupku? Emang, aku salah apa sih? Iya gapapa, gapapa kok kamu sama pacar baru kamu. Aku tau. Kamu mungkin bahagia, malah jauh lebih bahagia sama dia. Tapi, mesti ngilang? Tidak, aku tidak akan mengganggu hidupmu. Malah, aku sudah memutuskan untuk berhenti mencintaimu. Sekedar memberi kabar bisa kan? Setidak nya, aku tau kamu sedang bahagia dan baik baik saja.
Percayalah, aku tidak akan mengusik hidupmu lagi.

Kamis, 24 Januari 2019

Selamat Ulang Tahun, Dilanku

Hari ini, 23 tahun yang lalu. Ada seorang ibu yang sangat cantik dan baik hati melahirkan seorang anak laki laki. Iya, aku memanggil nya bang yudi. Padahal kami seumuran.
 Anak laki laki itu memanggilku dengan sebutan jogal. Terkadang dia memanggil ku mpreng. Cuma dia dari sekian banyak makhluk di bumi ini yang memanggilku seperti itu. Unik, aku sering tersenyum ketika dia memanggilku seperti itu. Sedikit aneh, tapi aku suka.
Anak laki laki itu berhasil membuatku bahagia. Berhasil menghapuskan luka yang lumayan perih. Anak laki laki itu berhasil menjadi dilanku. Dia baik, romantis dan selalu membuatku tersenyum bahagia.
Selalu hadir di waktu genting. Padahal aku tidak pernah bercerita kesedihanku kepadanya. Tapi seolah olah semesta memberinya kabar, bahwa ada seorang perempuan yang harus kau hibur. Yang harus kau kembalikan senyum nya. Untuk kesekian kalinya. Lagi dan lagi dia berhasil mengembalikan senyumku.
Hari ini dia ulang tahun. Iya, hari ini. Selamat ulang tahun dilanku. Selalu menjadi sumber bahagiaku. Tetap bahagia dan selalu bersinar. Ingat saja, ada seorang wanita yang selalu mendoakanmu tetap bahagia walau mungkin tidak bersama. Ingat saja, ada seorang wanita yang menyayangimu dengan tulus. Ada seorang wanita yang selalu menunggumu, dan menyebut namamu di dalam doa nya.
Terima kasih untuk bahagia nya. Tidak, aku tidak akan memaksamu untuk membuat banyak bahagia bersamaku lagi. Cukup dengan kau bahagia mungkin aku akan bahagia juga. Mungkin. Atau kalau boleh, bisa kita ciptakan bahagia itu lagi? Jangan sering tidur terlalu larut malam, nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit aku sedih, karna aku belum tentu ada disana menyembuhkan sakitmu. Selalu sehat, dan tetap bahagia. Aku sayang kamu. With love, putri.
 

My Camera

My Camera

Semut Teater ({})

Semut Teater ({})